[Exclusive] The Blind Side of Yoshua Yonatan

Bagaimana kabar UTS teman-teman? Di pertengahan pekan UTS ini, Students Journalism menghadirkan hasil wawancara spesial dengan peraih IPK tertinggi se-UI yang juga berasal dari departemen kita tercinta, Departemen Matematika. Orang tersebut tidak lain adalah Yoshua Yonatan, Matematika UI 2011.

Berikut hasil wawancaranya. Selamat membaca!

IMG_20151025_125551

Apakah meraih IPK tertinggi se-UI adalah sesuatu yang tidak disangka atau sudah menjadi target dalam hidup?

Meraih IPK tertinggi bukanlah impian saya dan juga bukanlah sesuatu yang telah direncanakan. Bagi saya, target yang diinginkan harus lebih daripada sekedar IPK tertinggi. Prinsipnya, saya harus menyelesaikan semua tanggung jawab dari keputusan yang saya buat. Jadi, ketika saya memilih suatu mata kuliah, saya menyelesaikan kuliah tersebut sebaik yang saya bisa. Siapa sangka, ternyata mendapatkan IPK tertinggi, itu hanya hadiah. Yang terpenting adalah saya sudah belajar melatih diri saya untuk bertanggung jawab atas semua mata kuliah yang saya ambil.

Bagaimana perasaan kakak saat tahu kakak meraih IPK tertinggi se-UI?

Sebelum wisuda UI, saya benar-benar merasa tidak mungkin akan mendapatkan IPK tertinggi. Walaupun sebelum wisuda saya sudah tahu bahwa saya meraih IPK 3.94, tapi tidak menyangka dan tidak mengharapkan memperoleh predikat tersebut pada awalnya. Ketika Rektor membacakan laporan wisuda, disebutkan bahwa peraih IPK tertinggi adalah saya dan William Gozali (Mahasiswa Fasilkom). Saya merasa itu adalah sebuah kejutan. Saya merasa senang, tapi ya sudah hanya begitu (tertawa bahagia). Oh iya, saya dan William dulu masuk UI melalui jalur yang diselenggarakan Dinas Pendidikan SMA.

Bagaimana tips kakak agar dapat menyeimbangkan akademis dan organisasi?

Menurut saya yang terpenting adalah komitmen, tanggung jawab, dan jangan merasa hebat. Organisasi atau akademik, keduanya bukan pilihan yang keduanya atau salah satu harus diambil atau dimaksimalkan. Tergantung prioritas hidup teman-teman. Saran saya, jalani saja hal yang menyenangkan dan jangan lupakan tanggung jawab yang sedang teman-teman ambil. Kalau teman-teman menikmati organisasi, silahkan berorganisasi. Tapi jangan main-main, jadilah profesional di organisasi yang teman-teman jalani. Nah, kalau sudah begitu, jangan melupakan kuliahnya. Pertimbangkan banyak kuliah yang teman-teman ambil dengan segudang kegiatan teman-teman (kerja, organisasi, atau apapun itu). Apakah memungkinkan mengambil 21 sks, tapi teman-teman ikut 9 kepanitiaan dan 6 organisasi? Lebih baik dan bijak kalau hanya mengambil 12 sks saat kondisinya seperti itu. Jadi kuliahnya maksimal. Daripada mengambil 21 sks tapi 9 sks tidak lulus dan 12 sks lainnya mendapatkan B atau C, lebih baik mengambil 12 sks tapi semuanya mendapatkan A. Kalau saya dulu prioritas utamanya adalah akademik karena saya menikmati proses belajar di Departemen Matematika UI. Yang kedua yaitu bekerja (mengajar olimpiade matematika) karena sejak masih menjadi mahasiswa baru, saya hidup dengan biaya sendiri dan beasiswa. Jika ada waktu luang, baru saya mengikuti organisasi atau kepanitiaan. Kalaupun saya berencana mengikuti kepanitiaan atau organisasi, biasanya saya tidak mengambil kuliah 24 sks pada semester tersebut.

Apa saja prestasi kakak selama masa kuliah dan manakah yang paling berkesan?

Prestasi saya banyak. Tapi, yang paling berkesan adalah meraih second prize IMC (International Mathematic Competition). Seolah semua usaha belajar saya terbayar lunas di acara ini, setelah sebelumnya meraih medali emas ONMIPA (Olimpiade Nasional Matematika dan IPA) tentunya. Salah satu yang berkesan juga adalah menjadi juara 2 Mapres (Mahasiswa Berprestasi) FMIPA 2014. Di sini saya belajar melatih gaya bicara saat presentasi, berbicara di depan umum, serta membuat ide-ide kreatif bagi masalah sosial yang ada di sekitar kita lalu menuliskannya dalam gagasan yang ketat. Saya juga menjadi juara 1 pada Pemodelan Matematika Nasional dengan topik desain angklung. Di lomba ini saya merasa ilmu matematika yang saya punya sangat teraplikasikan. Dengan menguasai ide-ide di kuliah analisis real, aljabar abstrak, metode pembuktian dengan kontradiksi, aljabar linier, model linier, fisika dasar, matematika dasar, pemodelan matematika, programming, desain poster, ternyata saya bisa memodelkan nada yang keluar dari angklung berdasarkan ukuran angklung dan menjelaskan mengapa gelombang bunyi yang dihasilkan oleh angklung menjadi sangat indah. Sangat rumit, tapi menyenangkan. Di sini saya juga belajar kerja dalam kelompok, dibawah tekanan dan waktu tenggang yang sempit. Sangat melatih softskill. Terima kasih untuk Pak Hengki yang telah membimbing kami.

Sejak kapan kakak senang menggosipkan orang dan apa yang membuat kakak betah melakukannya?

Sebenarnya saya tidak senang menggosip sebelum kuliah. Tapi kakak asuh saya, Kak Rizky Reza Fauzi adalah seorang biang gosip, raja gosip, dan sumber gosip (Kak Eja, mohon maafkan editor yang tidak mempunyai kuasa menyunting bagian ini). Jadi, semua bakat gosip yang saya miliki adalah warisan dari Kak Eja. Oh iya, Kak Eja dulu juga peraih IPK tertinggi se-UI dengan IPK 3.93. Setidaknya ada hal baik dari Kak Eja yang diwariskan ke saya. Lucu ya, banyak hal dari Kak Eja yang diwariskan ke saya. Kak Eja dan saya sama-sama meraih medali emas ONMIPA, senang menggosipkan orang, asisten dosen Statistika Matematika 1 dan 2 selama 2 tahun, dan meraih IPK tertinggi se-UI (tertawa terbahak-bahak).

Apa kejadian paling memalukan yang pernah kakak alami di Departemen Matematika?

Sepertinya hidup saya sudah sangat memalukan. Saya pernah tidur di kelas Matematika Dasar 4 (sekarang mata kuliah ini sudah dihapuskan), ketika terbangun ternyata sudah pergantian kelas. Kemudian pernah juga ditegur pertama kali oleh Pak Arie ketika pengumuman peserta yang lolos mengikuti ONMIPA karena saya berbuat sesuatu yang kurang menyenangkan. Padahal, waktu itu saya masih mahasiswa baru dan belum mengenal Pak Arie. Saya juga pernah sengaja tidak mengikuti kuliah biolum. Saat itu, saya sangat mengantuk dan tidak mengerti materi yang diajarkan, jadi saya pulang ke kamar kost di tengah-tengah kuliah, kemudian kembali lagi ke kelas sebelum kelas selesai. Pernah juga waktu kuliah Aljabar 2 jam 8 pagi, tetapi saya baru bangun jam 9.30. Ketika datang ke kampus, teman-teman saya meledek, “Cie Yoshua sudah berani bolos.” Pada saat Forsil, saya mendapatkan peran yang sangat menyebalkan pada saat persembahan angkatan. Saya menjadi cowok homo, kemudian tahun berikutnya menjadi jin yang memamerkan perut buncit.

Apakah kakak pernah punya crush di Departemen Matematika?

Tidak ada, saya belum pernah menyukai cewek di Departemen Matematika. Ada cewek yang saya sukai dari awal tahun 2014 di Universitas Padjajaran, tapi belum berani untuk serius. Tapi hubungan dan komunikasi kami masih lancar dan baik-baik saja. (Mohon doakan keberhasilan hubungan asmara Kak Yoshua ya teman-teman)

Bagaimana rancangan hidup masa depan kakak?

Saat ini saya sedang sekolah pascasarjana di Matematika ITB, mengikuti program PMDSU (Program Magister Doktor untuk Sarjana Unggulan). Saya hanya menginginkan kuliah yang baik, menghasilkan banyak paper dalam 4 tahun ini, lalu memperoleh gelar doktor. Lalu, mengabdi menjadi dosen. Saya sangat ingin kembali ke UI, mengembangkan budaya penelitian, terutama di bidang aljabar dan statistika. Meneruskan perjuangan Bu Intan (promotor saya), membuat aljabar Indonesia yang semakin gaul dan keren. Saya juga ingin mengikuti program postdoktoral.

Apakah kakak memiliki penyesalan selama di Departemen Matematika?

Saya tidak menyesal sama sekali telah lulus dari Departemen Matematika UI. Saya menghargai dan bersyukur dengan semua yang saya dapatkan. Jika diulas balik, penyesalan selalu ada. Misalnya mengapa saya tidak memaksimalkan kuliah saya, lupa kalau ada UAS, tidak bisa menjawab soal UAS Aljabar I, mengapa saya tidak melanjutkan S2 di luar negeri, mengapa saya tidak pernah “modusin” orang selama berkuliah, atau hal-hal lain. Tapi penyesalan itu sementara dan tidak akan bermanfaat sampai kita sadar akan pesan dan hikmahnya. Jadi, tidak ada penyesalan yang saya rasakan.

Apa target kakak yang belum tercapai selama kuliah?

Awalnya saya bercita-cita bisa bebas secara finansial. Saya sangat tertarik dengan gagasan bebas secara finansial, tapi belum menemukan cara ke arah itu.

Pada umur berapa kakak menargetkan untuk menikah?

Saya menargetkan menikah pada umur 27 tahun. Tapi, biar Tuhan yang mengatur.

Bagaimana tipe cewek idaman kakak?

Saya sangat menyukai cewek yang cerdas dan bisa menjadi mama buat saya. Takut akan Tuhan, itu kriteria yang utama. Saya senang yang wataknya seperti Andini 🙂 (Mohon maaf editor juga tidak memiliki kuasa untuk menyunting bagian ini, menyamarkan nama tokoh, serta menghapus smiley). Sekarang sudah tidak memikirkan kriteria, menunggu apa yang Tuhan berikan ke saya saja.

Apa pesan kakak untuk mahasiswa-mahasiswi yang masih berjuang di Departemen Matematika?

Untuk yang masih berjuang di Departemen Matematika, nikmati kuliahnya, pengalaman perjuangan hidup. Jangan sia-siakan waktu di sini, kembangkan potensi yang teman-teman punya. Contoh: jangan jadi seksi danus di semua kepanitiaan. Pelajari hal yang baru saat ada kesempatan. Saya tidak memaksa kalian untuk bertahan di Departemen Matematika (terutama untuk mahasiswa baru). Kalau kalian tidak bahagia di sini dan orang tua kalian merestui untuk pindah dari sini (entah untuk kuliah di tempat lain, menikah, atau memulai usaha), segeralah pindah, jangan buang-buang waktu di sini. Tapi jika memang ingin bertahan dan restu orang tua kalian ada di sini, perjuangkanlah. Kalau kalian memang senang kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, pilihlah mata kuliah dengan bijak (seperti perumpamaan tadi tentang banyak mata kuliah yang bisa diambil). Kalau kalian kuliah sambil bekerja, senangilah pekerjaan Anda, beri porsi bagi kuliah yang sewajarnya (lagi-lagi, perumpamaan sks yang tadi sudah saya jelaskan).

Apa impian kakak untuk Departemen Matematika?

Saya ingin Departemen Matematika UI menjadi kampus riset. Dosen dan mahasiswanya aktif di penelitian dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu Bangsa Indonesia. Hanya itu.

Apakah menjadi jomblo selama 22 tahun adalah sesuatu yang tidak disangka atau sudah menjadi target dalam hidup?

Itu adalah hal yang tidak disangka tentunya. Saya belum genap 22 tahun. Semoga sebelum 22 tahun, sudah diberikan Tuhan ya (sekali lagi, mohon didoakan ya teman-teman). Banyak hal yang saya syukuri. Saya memiliki teman-teman yang selalu menghibur, menyemangati dan bisa berbagi kebahagiaan. Saya bersyukur menjadi jomblo karena saat saya mendapat masalah, saya menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Saya meletakkan dan menyerahkan masalah serta tekanan itu ke Tuhan yang selalu memberikan kekuatan dan penghiburan yang tidak pernah saya sangka . Kalau ada pacar, mungkin saya akan curhat galau ke pacar, dan pacar belum tentu bisa memberikan solusi. Ketika saya bahagia, saya ingat kalau saya harus berdoa untuk mengucap syukur dan berterima kasih dengan Tuhan. Kalau ada pacar, mungkin, pacar adalah orang yang pertama tahu, lalu saya lupa akan Tuhan.

 

Begitulah wawancara eksklusif Student Journalism bersama Yoshua Yonatan, peraih IPK tertinggi se-UI. Hasil wawancara telah melalui proses penyuntingan tanpa merubah konten dan jawaban-jawaban Kak Yoshua sedikitpun. Semoga dapat menambah semangat teman-teman dalam menghadapi UTS dan perkuliahan ya.

 

Interviewer: Andini Ika Fitri

Editor : Andini Ika Fitri

Leave a Reply